Home » Cerpen » Pilihan

Pilihan

IBRAHIM HARUS MEMILIH

    Ibrahim berasal dari keluarga yang hanya terdiri dari satu keturunan saja disetiap generasinya. Ibrahim menikah dengan seorang wanita yang bernama Aisyah. Karena, Ibrahim berasal dari keluarga anak tunggal, ia juga harus memiliki anak untuk melanjutkan generasinya.

    Ibrahim dan Aisyah telah menikah selama 2 tahun. Tetapi mereka belum juga diberkati seorang anak. Ibrahim merasa takut, kalau saja nanti Aisyah tidak dapat memberikannya keturunan untuk keluarganya. Ditambah lagi tekanan dari ayahnya yang selalu berkata, juga keluarga “Ibrahim, kita itu berasal dari keluarga yang hanya terdiri dari anak tunggal. Moyang kamu anak tunggal, kakek kamu anak tunggal, ayah kamu juga anak tunggal, begiti juga keluarga dari ibumu, bahkan kamu juga adalah anak tunggal, istri kamu juga demikian. Jadi, kalau kamu tidak bisa memberikan keturunan, siapa yang akan menjadi generasi selanjutnya untuk keluarga kita? Keluarga kita adalah keluarga yang terhormat, jadi, jangan sampai keluarga kita berakhir di kamu dan Aisyah.” Kata-kata ayah yang selalu membebani fikiran Ibrahim.

    Akhirnya, telah terlihat tanda-tanda kehamilan dari keadaan Aisyah. Ibrahimpun mengajak Aisyah untuk check up ke rumah sakit. Setelah melewati beberapa pemeriksaan dari dokter. Merekapun duduk di hadapan meja dokter, untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas. “selamat ya, pak, bu. Ibu Aisyah sedang mengandung. Umur kadungannya sekarang belum terlalu jelas, mungkin sudah sekitar seminggu.” Jelas dokter, sambil menjabati tangan Ibrahim. Kata-kata dokter tadi, memekarkan senyuman pada bibir Ibrahim dan Aisyah. “benarkah dokter? Terima kasih dokter! Terima kasih!”. Ucap Ibrahim dengan sangat riang. “tapi, pak. Saya sarankan untuk selalu menjaga kesehatan ibu Aisyah dan kandungannya. Karena sepertinya bayinya agak lemah dibanding bayi biasanya. Dan apalagi umur kandungan ibu Aisyah masih terbilang sangat muda. Jadi, tolong benar-benar dijaga!” saran dokter. “iya, dok. Pasti. Tanpa dokter beritahupun, saya pasti akan menjaganya, iya kan, Aisyah?” ungkap Ibrahim dengan senyum lebar yang tidak bisa hilang dari wajahnya, diikuti dengan anggukan sertu senyum manis dari Aisyah.

    Merekapun keluar dari rumah sakit itu, dan langsung memasuki mobil mereka. “Istriku, apakah kamu lapar? Atau apakah kamu membutuhkan sesuatu untuk calon bayi kita?” tanya Ibrahim dengan semangat 45 yang membara di dalam jiwanya. “sudahlah, mas! Saya hanya ingin beristerahat. Kita langsung pulang saja, rasanya aku sangat lelah. Sebaiknya kita segera pulang, pasti keluarga kita sudah menunggu.” Saran isterinya dengan tersenyum senang melihat suaminya yang sangat bersemangat. “baiklah, kalau itu yang kamu mau! Tpi mungkin sebaiknya kita mampir dulu untuk membeli buah-buahan untukmu.” Tawar Ibrahim. Aisyah tersenyum “baiklah! Terserah mas sajalah!”.

    Sesampainya di rumah. Mereka telah disambut oleh orangtua mereka. Terlihat ke-empat calon kakek nenek itu terlihat sangat khawatir dan penuh harap. “bagaimana ibrahim? Apa kata dokter?” tanya ayah Ibrahim diikuti dengan anggukan ibu Ibrahim, ayah dan ibu Aisyah. Aisyah dan Ibrahim pura-pura tampak murung. Mereka telah merencanakannya untuk memberikan kejutan ketika makan siang nanti. Ibrahim dan Aisyah hanya terdiam dan langsung memasuki kamar mereka. Keempat calon kakek dan nenek itupun ikut terdiam dan murung. Mereka mengira kalau pasti Aisyah tidak ada tanda kehamilan, mungkin hanya sakit biasa.

    Makan siangpun tiba. Mereka ber-enam, duduk di meja makan tanpa ada suara. Suasananya begitu hening dan dingin. Sampai akhirnya, Ibrahim membuka pembicaraan denan raut wajah yag terlihat sangat sedih “ayah, ibu! Sebenarnya ada yang ingin kami sampaikan pada kalian ber-empat. Ini tentang hasil dari pemeriksaan Aisyah tadi.” Ayah dan ibu Ibrahim dan Aisyah terdiam. Ibrahim menghela nafas yang sangat panjang kemudian mulai tersenyum “Aisyah hamil! Ia sekarang mengandung anakku!”. Kata-kata Ibrahim memecahkan suasana. Semuanya terlihat sangat gembira, sampai meloncat-loncat seperti anak-anak yang sedang bermain.

    8 bulan kemudian…

    “sekarang umur kandunganku sudah jalan 8 bulan, saya merasa sedikit takut, mas” tutur Aisyah. “apa yang membuatmu takut, istriku? Aku akan selalu berada di dekatmu. Jadi, kamu tidak perlu takut merasa sakit saat melahirkan. Kamu tidak akan sendiri.” Bujuk Ibrahim. “bukan itu yang saya takutkan, saya takut kalau saya tidak bisa menjaga bayi dalam kandungan saya ini sampai waktunya nanti.” Ungkap Aisyah dengan raut wajah yang benar-benar terlihat khawatir. “hush… kamu tidak boleh berkata seperti itu, Aisyah! Kamu harus bisa, lagi pula kamu tidak sendiri. Memangnya ada apa denganmu? Apa kamu merasa tidak enak badan?” tanya Ibrahim ikut khawatir. Aisyah tersenyum tipis “maafkan istrimu ini, suamiku. Saya telah membuatmu khawatir. Mungkin ini karena ini pertama kali saya mengalaminya. Lagi pula, saya tidak akan membiarkan bayi kita ini kenapa-napa.” Jelas Aisyah, mengembalikan senyum suaminya itu.

    Waktu makan siangpun tiba. mereka berkumpul di runang makan untuk menikmati hidangan makan siangnya. “Aisyah, sebentar lagi bayi kamu akan lahir, kan?” tanya ibu Aisyah. Aisyah mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. “bagaimana kalau kamu dan Ibrahim pergi ke toko pakaian bayi untuk menyiapkannya?” lanjut ibu Ibrahim. “betul itu, dan bagaimana kalau kita buat acara syukuran untuk calon bayimu itu, besok lusa?” ajak ayah Ibrahim. Semua anggota keluarga mengangguk setuju.

    Hari acara syukuranpun tiba. banyak kerabat yang datang untuk ikut memeriahkan acara. Semua terlihat senang. Ketika Aisyah hendak mengambil segelas air minum yang berjarak sekitar 3 meter dari tempat ia berdiri, tiba-tiba ia menginjak kulit pisang dan terpeleset. Aisyahpun tidak sadarkan diri. Dalam hitungan detik, suasana langsung berubah menjadi panik. Aisyah segera dilarikan kerumah sakit.

    Aisyah langsung dibawa ke dalam rung UGD. Ibrahim, ayah dan ibu Ibrahim, dan ayah dan ibu Aisyah terlihat sangat cemas. Sekian lama menunggu, akhirnya ada seorang dokter yang keluar dari ruang pemeriksaan. “dok…dok.. bagaimana keadaan istri saya, dok?” tanya Ibrahim dengan penuh rasa kepanikan. “saudara, suami pasien?” tanya dokter. Ibrahim mengangguk. “silahkan ke ruangan saya! Ada yang harus saya beritahukan kepada bapak!” ajak dokter.

    Ibrahimpun ikut ke ruangan dokter, sementara orang tua nya dan mertuanya tinggal di ruang tunggu. Di dalam ruang kerja dokter, mereka berbincang-bincang. “ada apa dengan istri saya dan anak saya, dok?” tanya Ibrahim berusaha tenang. “saya sangat menyesal mengatakan ini. Tapi, bapak harus benar-benar memilih. Ternyata, ibu Aisyah menderita Leokimia yang sudah sangat parah sampai menyerang rahimnya, yang tidak memungkinkannya untuk melahirkan anaknya dengan selamat. Untuk menyelamatkan ibu Aisyah, kita harus menggugurkan anak dalam kandungannya, karena apabila tetap di lahirkan ini sangat membahayakan nyawa ibu Aisyah.” Jelas dokter. Ibrahim panik, ia mulai berkeringat dingin. Ia memegangi kepalanya dan menjambak-jambak rambutnya, sambil mengucapkan “astaghfirullah”, “lalu, mengapa dokter tidak melihat gejala penyakit ini ketika saya membawa istri saya kesini 8 bulan yang lalu?” tanya Ibrahim. “kanker darah itu, belum terlihat, mungkin saja bu Aisyah menderita kanker darah ini sekitar sebulan yang lalu. Saya lihat kanker dalam diri bu Aisyah ini, sangat ganas. Bahkan kemungkinan hidup bu Aisyah hanya sekitar kurang dari 3 bulan lagi. Dan apa bila ia tetap berusaha melahirkan bayi dalam kandungannya itu usianya akan semakin pendek.” Jelas dokter lagi. “apakah tidak bisa dilakukan operasi sesar,dok, untuk menyelamatkan keduanya?” tanya Ibrahim. “itulah yang saya maksud tadi, bila dilakukan operasi sesar, anaknya akan meninggal. Karena kondisi bayi dalam kandungan istri bapak sangat lemah. Bahkan saya sulit mendengar denyut nadinya. Mungkin sebaiknya bapak bicarakanlah dulu dengan keluarga bapak! Bu Aisyah juga sudah bisa keluar nanti. Saya harap bapak tidak salah pilih.” Begitulah akhir pembicaraan Ibrahim dan dokter itu.

    Ibrahim, Aisyah, dan orang tua mereka kembali ke rumah sore itu. Mereka berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan apa yang dikatakan dokter tadi. “mas! Kenapa mas terlihat sangat murung? Apa yang dikatakan dokter? Bayi kita baik-baik saja, kan?” tanya Aisyah kepada suaminya sambil memegangi tangan suaminya yang terasa begitu dingin. “istriku!….” Ibrahim tidak dapat menahan tangisnya, ia memeluk istrinya dan menangis lepas. Tangisan suaminya itu membuat Aisyahpun ikut menangis dan demikian pula orang tua mereka yang terlihat seperti menonton film drama yang sangat menyedihkan. Ibrahimpun menceritakan semuanya kepada keluarganya. Aisyahpun menangis sambil berkata “tidak, mas! Aisyah tidak akan mau menggugurkan bayi ini! Tolong jangan paksa saya untuk menggugurkannya!” isak tangis Aisyah. Tak tega Ibrahim melihat tangisan istri tercintanya itu. “ini demi kesehatanmu! Saya memang sangat ingin memiliki seorang anak darimu, tapi, saya tidak ingin kamu meninggalkanku. Saya sangat mencintaimu istriku!” ungkap Ibrahim sambil merangkul istrinya. “mas, kalau mas memang sayang sama Aisyah, izinkan Aisyah melahirkan bayi ini, mas. Lagi pula umur Aisyah sudah tidak lama lagi. Saya mau merasakan jadi seorang ibu diakhir hidupku nanti, mas! Saya mohon mas!” pinta Aisyah. Semuanya hanyut dalam kepedihan. Ibrahim bingung harus bagaimana lagi, sementara orang tuanya dan mertuanya mengangguk pertanda menghendaki Ibrahim menyetujui permintaan Aisyah. Ibrahim pun mengangguk “baiklah, istriku. Jika memang itu yang kamu inginkan. Jaga dirimu dan anak kita yah!” kata Ibrahim sambil tersenyum menatap mata istrinya.

    Hari kelahiran anak Aisyahpun tiba. Ibrahim dan orangtuanya menunggu di ruang tunggu, menunggu kelahiran anak pertamanya. 1 jam di dalam ruang bersalin lewat. Ibrahim menuju Mushollah rumah sakit itu, untuk memohon kepada Allah SWT agar di berikan kesehatan bagi anak dan istrinya. Ia terus memohon. Sampai ia tidak sadar bahwa ia sudah berada dalam mushollah itu sudah hampir 2 jam. Ibrahimpun berlari sekuat tenaga untuk mengetahui bagaimana keadaan anak dan istrinya. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Selain Aisyah yang meninggal, anaknya juga meninggal karena kondisinya yang sangat lemah. Betapa terpukulnya perasaan Ibrahim saat itu. Tapi setidaknya ia juga senang karena katanya Aisyah sempat melihat anaknya selama kurang dari 1 menit sebelum kematiannya. Setidaknya ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan.

 

THE END

 

Created By : Nur Khalisa Syafar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s