Home » Cerpen » Religi

Religi

` “Sahuuuur……………… Sahuuuuur…………..” suara penduduk menandakan pkl 3 subuh.

“sekarang jam berapa sih?” seorang wanita remaja terbangun, dan dengan lemahnya menggapai jam tangan nya dan melihat jam, “baru jam 3, aduh, kepalaku terasa sangat berat. Aku nggak bisa bantuin ibu panti, lagian pasti ibu panti mengerti.” ia kembali memejamkan mata, tidak lama setelah ia memejamkan matanya, ia beranjak dari tempat tidurnya dengan panik, “astaghfirullah, akukan udah nggak tinggal di panti.” Serunya lantas segera keluar dari kamarnya dan memikirkan apa yang akan ia masak untuk sahurnya.

    CINDY, berusia 16 tahun. Dari kecil ia tinggal di panti asuhan, namun ini adalah Ramadhan pertamanya tinggal sendiri setelah ia meninggalkan panti asuhan. Katanya sih, ingin coba mandiri. Cindy bukannya tidak suka tinggal di panti asuhan, dia hanya ingin mencoba mandiri, dan tidak ingin menyusahkan ibu panti yang telah membesarkannya. Dia tinggal di kosan yang dekat dengan sekolahnya, katanya agar tidak terlambat ke sekolah.

Cindy termasuk anak yang berprestasi, dan juga disiplin. Ia menggunakan beasiswanya bersekolah di SMAnya sekarang ini. Ia menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe, gajinya juga pas-pasan. Cindy juga masih sangat berharap dapat bertemu kembali dengan orang tua kandungnya yang telah terpisah lama dengannya.

Tidak ada satupun yang Cndy tahu tentang orang tuanya. Kata ibu panti, saat ibu panti menemukan Cindy, ia hanya menemukan sebuah kalung yang bertuliskan Cindy, maka dari itulah ia diberi nama Cindy. Meskipun, Cindy memiliki latar belakang yang tidak jelas dan sangat menyedihkan, ia tidak pernah terlihat sedih, ia selalu tersenyum meskipun perasaannya terasa kacau. Cindy anak yang soleha. Ia tidak pernah meninggalkan shalat 5 waktu dan selalu membaca kitab suci Al-Qur’an, terutama saat malam Jum’at, ia tidak pernah melupakan membaca surah yasin. Itu semua adalah ajaran dari ibu panti kepada anak panti asuhan, termasuk Cindy.

    Ketika Cindy hendak menjalankan ibadah shalat subuh, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing. “astaghfirullah, kenapa kepalaku tiba-tiba saja terasa pusing?” kata Cindy memegang kepalanya, sambil memijatnya, ” Yaa Allah, mengapa aku mimisan? Padahal biasanya aku tidak pernah mimisan sama sekali,” kata Cindy dengan nada suara yang kaget. Tidak lama kemudian, “syukurlah, rasanya agak sedikit mendingan. Sebaiknya aku segera shalat subuh!” iapun mengambil air wudhu, kemudian berjalan ke kamarnya dan shalat.

    Pagi yang indah, burung berkicauan. Cindy telah berpakaian rapi dan menyiapkan buku pelajarannya untuk ke sekolah. Ia tidak sempat menyiapkannya saat malam hari, karena selepas tarwih, ia merasa sangat lemah dan segera beristirahat. Setelah siap, Cindy segera ke sekolah. Di sekolah Cindy, ia mempunyai teman baik yang bernama Debby. Debbylah yang telah membantu Cindy untuk mencari pekerjaan. Kebetulan pemilik cafe tempat Cindy bekerja adalah papa Debby, pak Tio.

    “hai, Cindy!” sapa Debby yang ternyata lebih dulu ada di dalam kelas dibanding Cindy, “Assalamualaikum, Debby!” sapa Cindy pula sambil berjalan ke tempat duduknya, debby pun menjawab salam Cindy dengan nada malu dan tersipu, “waalaikumsalam”. Cindy memang selalu mengingatkan Debby, bahwa salam atau sapaan orang islam itu adalah Assalamualaikum, namun begitulah, Debby selalu saja lupa.

” tadinya aku fikir, kamu udah datang ke sekolah, eh pas aku masuk kelas, kamu belum datang. Kok tumben sih kamu baru datang? Biasanyakan kamu lebih dulu datang dibanding dengan ku,” kata Debby dengan ekspresi wajah yang sangat ingin tahu. Cindy pun menjawab sambil mengambil buku pelajaran dari dalam tasnya, ” saya juga nggak tahu, tiba-tiba saja tadi subuh kepalaku terasa sangat sakit, dan terasa pusing. Tapi, sekarang udah nggak kok.” Sebenarnya Cindy merasa masih lemah, tapi dia tidak ingin membuat sahabatnya itu khawatir kepadanya. “ouh,,,,,,, tapi, sekarang benar udah nggak pa-pa kan?” Cindy mengangguk pelan, ” syukurlah, kamu nggak boleh remehin sakit kepala yah, soalnya sakit kepala itu adalah gejala atau bahkan dampak dari berbagai macam penyakit.” Lanjut Debby. ” iya, bu guru,” jawab Cindy agak bercanda. Mereka memang sudah seperti saudara.

Seperti biasa, sepulang sekolah Cindy akan langsung pergi bekerja di cafe.

” eh, Debby. Kamu jadi nggak ikut ke tempat kerjaku?” tanya Cindy kepada Debby sambil membereskan peralatan sekolahnya.

” duh, sorry banget yach, Cin! Soalnya nanti aku ada janji sama mamaku, terus aku juga udah beritahu papaku kalau aku nggak bisa datang. Tapi, kalau besok insya Allah aku bisa kok.” jawab Debby.

” ouh,,,, nggak pa-pa kok. Itukan tergantung kamu!” ” kalau gitu, aku pergi duluan yach! Takut terlambat. Assalamu alaikum!” kata Cindy dan terus keluar kelas.

” Waalaikum Salam” jawab Debby.

    Ketik Cindy hendak membersihkan meja yang baru saja ditempati oleh seorang wanita yang umurnya kira-kira sama dengan ibu pantinya, ia melihat ada tas di atas meja tersebut. ” ini tas siapa yach?” kata Cindy sambil mengambil tas tersebut dan menengok ke arah pintu keluar cafe. ” syukurlah, itu pasti ibu yang baru saja menempati meja ini. Dan ini pasti tas ibu itu,” dengan senyumnya, Cindypun berjala mendekati ibu itu., yang telah berada di parkiran ” Assalamu Alaikum, bu! Emh… apa benar ini tas ibu?” tanya Cindy sambil menunjukan tas yang ia temukan di atas meja tadi. “alhamdulillah, ia benar ini tas saya. Terima kasih yach, hampiiiir saja saya kebingungan karena kunci mobil, dompet, dan lainnya itu ada di dalam tas ini.” Kata ibu itu. “Ini ambillah, sebagai rasa terima kasih!” ibu itupun mengeluarkan 3 lembar uang seratus ribu rupiah dan hendak memberikannya kepada Cindy. Namun, Cindy menolak, ” terimah kasih, bu! Tapi, saya ikhlas kok, bu. Maaf, bu saya belum menyelesaikan pekerjaan saya. Assalamu alaikum!” kata Cindy dan meninggalkan tempat parkiran tersebut. ” subhanAllah, ternyata masih ada di dunia ini anak seperti itu. ” Ibu itu kagum melihat tindakan Cindy dan berfikir di dalam hatinya, ” andai saja anakku masih ada, aku berharap ia seperti anak itu!” ibu itupun menaiki mobilnya dan pergi.

    Lagi, dan lagi. Cindy mimisan lagi setelah berbuka puasa. Cindy tidak tahu mengapa ia selalu saja mimisan. Tapi, ia tidak bisa ke rumah sakit untuk memeriksanya, karena ia tidak punya biaya. Dia juga tidak ingin merepotkan Debby, dan juga ibu panti. Sedangkan gajinya, ia gunakan untuk kehidupan sehari-harinya dan untuk membayar sewa rumahnya. Terkadang juga ia memberikan sedikit dari gajinya pada panti asuhan tempat ia dibesarkan. Cindy hanya bisa berdoa kepada Allah SWT agar ia dijauhkan dari berbagai macam penyakit dan dipertemukan kepada orang tuanya, bila orang tuanya masih hidup.

    Keesokan harinya, seperti biasa, sepulang sekolah Cindy bekerja di cafe, namun kali ini ia ditemani oleh Debby. Kata Debby sih, dia ingin buka puasa bersama sahabatnya, Cindy di cafe itu, pada saat waktu buka puasa tentunya.

    Sesampainya di sana, ternyata ada ibu itu lagi, yang kemarin melupakan tasnya. Ibu itu menyapa Debby, ” eh, nak Debby! Bagaimana kabarnya? Eh ada nak……. maaf saya tidak tau siapa namamu! Namanya siapa nak?” kata ibu itu. “nama saya Cindy, teman sekolahnya Debby,” kata Cindy. Ibu itu sedikit kelihatan kaget mendengar nama Cindy, kemudian ia menggelengkan kepalanya. Ibu itupun melanjutkan percakapannya, ” kamu tahu nggak Debby? Ini teman kamu, Cindy, kemarin udah bantu tante loh! Kan kemarin tante lupa ambil tas tante di meja ini. Tante udah sampai di parkiran, untung saja ada nak Cindy ambilin tas saya, kalau saja orang jahat yang mengambil tas tante mungkin sudah diambil, kalau nggak ada nak Cindy, tante nggak tau deh harus bagaimana,” jelas ibu itu dengan panjang lebar. ” ibu nggak usah begitu! Itu sudah kewajiban saya, membantu orang yang membutuhkan.” Jawab Cindy yang merasa tidak enak dipuji seperti itu. ” ya…… sudah dulu yah, tante. Soalnya aku mau ketemu papa dulu, sedangkan Cindy juga mau kerja dulu.” Kata Debby. “Assalamu alaikum.” salam Debby dan Cindy. ” walaikum salam” jawab ibu itu lalu melanjutkan mengetiknya. Dia adalah sekretaris suatu perusahaan yang terkenal, jadi maklum kalau ibu itu selalu mencari tempat yang tenang untuk mengetik, apalagi saat bulan puasa, jarang ada yang mengunjungi cafe kecuali waktu berbuka puasa, pasti sangat ramai.

    Pada saat buka puasa, Cindy dan Debby makan bersama sambil berbincang-bincang.

” ibu yang tadi itu siapa sich?” tanya Cindy kepada Debby.

” ouh….. yang tadi itu? Itu namanya tante Tiara. Dia itu saudara papa aku. Keluarganya itu sangat menyedihkan, anaknya saat masih berusia 1 minggu, di culik, tapi, saat penculiknya udah ditangkap, eh malah anaknya tante Tiara nggak ada, kata penculiknya sih, anaknya tante itu, di simpan di tempat ronda, lalu penculiknya pergi buang air kecil, pas kembali, eh anaknya udah nggak ada. Tau deh sekarang udah di mana. Terus, suaminya sudah meninggal 3 tahun yang lalu gara-gara kanker darah.” Jelas Debby.

” astaghfirullah…… kasihan sekali bu Tiara, itu! Tapi kok dia kelihatannya baik-baik saja yah? Seolah tidak ada masalah.” tanya Cindy lagi.

” yaa……. begitulah! Itu sudah karakter tanteku, nggak pernah aku melihatnya sedih. Dia selalu nyembunyiin kesedihannya.” Kata Debby dan memulai makannya.

” tante Tiara itu sama denganmu, dia juga masih berharap dapat ketemu sama anaknya. Dia selalu bilang, kalau anaknya ada, pasti dia sudah sebesar aku.” Lanjut Deby setelah mengunyah makanannya.

” andai ibuku masih hidup, kuharap dia itu tidak benar-benar membuangku!” kata Cindy membuat suasana hening.

” kamu jangan bilang gitu! Aku yakin kok kalau orang tua kamu melakukan itu pasti tidak sengaja atau mungkin karena ada alasan tertentu.” Kata Debby berusaha mengembalikan suasana.

” emh…. oh iya, papaku bilang kalau anak itu saat diculik mengenakan kalung, tante Tiara yang memakaikannya.” Lanjut Deby.

Cindy tiba-tiba tersedak. ” kamu kenapa, Cindy? Ayo minum dulu!”. Kata Debby, dan memberikan segelas air minum. ” alhamdulillah, aku nggak pa-pa kok! Tadi kamu bilang kalung? Apa ada tulisan nama dikalung yang anak itu kenakan?” tanya Cindy dengan penuh harap.

” aduh… kalau itu, aku juga kurang tahu, Cin! Emangnya kenapa?” jawab Debby kaget, karena Cindy begitu bersemangat.

“nggak, nggak pa-pa kok. Maaf kalau aku membuatmu kaget!” jawab Cindy dengan nada yang lebih tenang. Cindy tidak memberitahu tentang kalung miliknya, karena nanti ia dianggap hanya mengada-ada.

Setelah bekerja, Cindy langsung pulang ke rumahnya. Cindy mimisan lagi, tapi, ia tidak begitu kaget. Hal itu sudah ia anggap biasa, itu sudah sering terjadi. Setelah shalat maghrib, Cindy memikirkan apa yang terjadi kepadanya? ” apa mungkin ibu Tiara itu adalah ibu yang selama ini kucari? Dan, apa aku ini adalah anak yang diculik dan ditinggalkan penculik itu? Dan, aku adalah anak yang dicari bu Tiara?” Cindy terus bertanya-tanya dalam hatinya. ” astaghfirullah, aku kenapa sih? Rasanya aku sangat yakin kalau ibu Tiara itu adalah ibu kandungku. oh iya aku bisa ke panti, terus tanya ke ibu, di mana aku di temukan?” fikir Cindy.

Setelah shalat tarwih, ia segera pergi ke panti. ” Assalamu Alaikum…… Assalamu Alaikum… bu! Assalamu Alaikum!” salam Cindy berulang-ulang. Akhirnya ibu panti membuka pintu sambil menjawab salam Cindy. Saat melihat bahwa ternyata anak yang datang ke panti adalah Cindy, ibu panti langsung memeluk Cindy dan mempersilahkannya masuk. ” ibu buatin minum dulu yah!” tawar ibu panti. ” nggak usah bu! Saya hanya ingin menanyakan sesuatu,” cegah Cindy dengan tatapan serius. Ibu pantipun duduk kembali dan siap mendengarkan cerita Cindy. Cindy memulai pembicaraan, ” aku ingin tanya, bu, di mana aku di temuin pertama kali, bu? Apa ibu bisa ceritain semuanya ke aku?” ” tentu saja. saat itu, ibu pergi membeli beras di warung. Tiba-tiba saja ibu mendengar suara tangisan bayi, ibupun mencari di mana suara tangisan bayi itu. Akhirnya, ibu temuin kamu di pos ronda yang tidak jauh dari warung, lalu…..” ibu panti berhenti bercerita, melihat Cindy meneteskan air matanya, ibu melanjutkan ceritanya ketika Cindy mulai tenang, ” lalu ibu membawamu pulang bersama ibu, karena ibu fikir ada orang yang sengaja meninggalkanmu sendirian.” ” jadi, jadi, benar aku anaknya bu…..” Cindy jatuh pingsan, ibu panti sangat panik dan membawa Cindy ke kamarnya untuk beristerahat sebentar.

Ketika Cindy sadarkan diri, jam dinding sudah menunjukkan pukul. 11.00 pm. Cindy langsung pamitan dengan ibu panti dan yang lainnya. ” kamukan baru sadar, jadi kenapa kamu tidak menginap saja di panti?” kata ibu panti, melihat wajah Cindy yang pucat. “terimah kasih, bu. Tapi,saya harus mencari ibu kandungku, sebelum aku tidak dapat melihatnya dengan tatapan sebagai ibu kandungku! Assalamu Alaikum!” jelas Cindy, kemudian keluar.

Cindypun berlari sekuat tenaganya untuk ke rumah Debby. Meskipun kepalanya sangat sakit, ia tetap berlari. Sesampainya di rumah Debby, Debby sangat kaget melihat temannya berada di depan pintu rumahnya saat jam setengah dua belas malam. Debbypun mengajak Cindy masuk ke kamarnya, dan Cindy tidak bisa menolak karena kepalanya sudah terasa sanga….t sakit.

Sampai di kamar Debby, Cindy menceritakan semua tentang dirinya, “….dan ternyata ibu kandungku adalah… bu TIARA! Aku mohon Debby antarkan aku ke rumahnya, aku sangat ingin merasakan kasih sayang orang tuaku!” Cindy memohon dengan sangat. ” emh, Cindy! Kamu terlihat sangat pucat, sebaiknya kamu isterahat di tempatku dulu, terus besok baru deh kita ketemu sama tante Tiara!” tawar Debby kepada Cindy. Tapi, belum sempat Cindy menerima atau menolak tawaran Debby, Cindy jatuh pingsan lagi. Debby sangat panik dan langsung membangunkan kedua orang tuanya dan membawa Cindy ke rumah sakit.

Saat Cindy sadarkan diri, ia sudah berada di rumah sakit. Dan ada Debby, orang tua Debby, ibu panti, dan…. bu Tiara. Cindy tersenyum lemah, melihat semua orang yang ia sayangi ada di sana. ” nak Cindy, kamu sudah sadar, nak? Ibu memang sudah mengira kalau kamu adalah anak kandung ibu!” kata bu Tiara dengan meneteskan air mata. ” sebenarnya aku ini kenapa? Kenapa aku harus berada di rumah sakit, bu?” tanya Cindy kaget meliat keadaannya. Ibu Cindy terdiam, akhirnya Debby menjawab pertanyaan temannya itu, ” kau menderita penyakit kanker darah stadium 4…… sama dengan papamu dulu!” Debby berusaha menahan tangisnya. ” astaghfirullah, mungkin ini memang sudah kehendak Allah SWT, dan aku sebagai manusia biasa, tidak dapat menolak kehendak Allah SWT. Tapi, setidaknya Allah sudah memberikanku kesempatan bertemu dengan ibu kandungku, meskipun aku tidak sempat bertemu dengan ayahku, Alhamdulillah!” kata Cindy, berusaha menenangkan dirinya, dan tersenyum. Ibu Cindy terlihat sangat sedih, dan berkata, ” jangan bilang begitu, nak! Kamu pasti sembuh!” ” bu, aku mohon, aku tidak ingin tinggal di rumah sakit ini! Rasanya tidak nyaman, aku mohon, perlakukan aku seperti biasanya saja!” pinta Cindy. Akhirnya Cindy pulang bersama ibu kandungnya.

Ketika Cindy hendak membeli bumbu makanan di warung, Cindy bertemu dengan seorang kakek-kakek yang meminta sedekah dari Cindy. Cindy merasa sangat kasihan melihat seorang kakek, yang sudah sangat tua.

” ini, kek ambillah! Semoga uang ini bisa beruna untuk kakek!” Cindypun memberikan uang yang tadinya ingin ia gunakan untuk belanja di warung.

” alhamdulillah, terimah kasih nak! Kamu memang anak yang baik, semoga Allah membalas kebaikanmu! Tapi, mengapa kamu kelihatan sangat pucat, nak? Ceritalah kepada kakek, siapa tahu kakek bisa bantu!” tanya kakek itu, berusaha membantu.

” saya….. menderita penyakit kanker darah, kek. Dan penyakitku ini sudah sulit disembuhkan. Tapi, insyaAllah saya ikhlas kok, kek. Mungkin ini memang sudah takdirku. Saya hampir saja tidak menerimanya, kek. Karena, baru saja saya dipertemukan dengan mama saya. Tapi, setdaknya Allah masih memberiku kesempatan merasakan memiliki seorang ibu.” Cerita Cindy.

” kakek hanya bisa sedikit membantu kamu, nak! Kalau saran kakek, minumlah segelas air zam-zam! Niatkanlah kesembuhanmu! Kemudian syahadatlah sebagai ummat islam! Yakinlah bahwa dengan air zam-zam itu dan dengan izin Allah SWT, kamu bisa sembuh!” jelas kakek itu. “Ini kakek punya sedikit air zam-zam! Semoga sembuh ya, nak!” lanjut kakek itu dan memberikannya sebuah botol yang memiliki setengah air zam-zam.

Cindypun menerima air zam-zam yang di berikan oleh kakek itu dan menatap air zam-zam itu, ” emh…. terimah kasih ya, kek!” Cindy menoleh lagi ke arah kakek tadi. Tapi, ternyata kakek itu sudah tidak ada. ” subhanAllah, apakah ini adalah pertolonganmu yaa Allah?” kata Cindy heran.

    Sesampainya dirumahnya, Cindy menceritakan semuanya kepada ibunya. Dan ia mencoba saran kakek tadi. Setelah itu ia merasa tidak terlalu sakit lagi, dan ketika dibawah ke rumah sakit, untuk mengecek kesehatan Cindy, dokter berkata, ” subhanAllah, apa yang telah terjadi kepada anak ibu, itu karena Allah SWT. Anak ibu sudah sembuh dari penyakitnya.

Alhamdulillah…..

 

~TAMAT~

Created By:

Nur Khalisa Syafar


    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s