Home » Cerpen » ROBBERT and MARRY

ROBBERT and MARRY

    

Ini adalah cerita tentang perkawinan sedarah antara Robert dan Marry. Robbert dan Marry adalah keluarga yang terkenal paling bahagia, dan harmonis. Robert dan Marry telah menikah selama 15 tahun, mereka telah mempunyai dua orang anak, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka tinggal di rumah pribadi mereka di Calivornia. Sebentar lagi adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-15.

    Untuk menyambut hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-15 itu, Robbert sengaja mengambil cuti untuk keluarganya. Ia ingin hari ulang tahun pernikahannya itu ia habiskan bersama dengan keluarganya. Keluarga Robbert benar-benar keluarga yang paling harmonis dan bahagia. Di hari itu juga, Robbert mengajak istrinya seorang, untuk keluar melihat pemandangan yang sangat indah di belakang rumahnya. Udara sejuk mengisi kedamaian di antara mereka berdua, kicauan burung yang hinggap di ranting-ranting pohon menjadi melodi membuat suasananya lebih romantis. Robbert merangkul istrinya yang tercinta, mereka duduk di bawah pohon yang rindang sore itu.

    Tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di belakang Robbert dan Marry. Robert dan Marrypun memalingkan wajah mereka untuk mengetahui siapakah yang datang ke istana mereka itu. “paman jackson!..” sambut Robbert dengan senyum lebar dan mata yang berbinar-binar, di sambung dengan senyuman manis Marry, setelah lelaki itu menuruni mobilnya, sehingga wajahnya tampak dengan jelas. Robbert dan Marrypun menghampiri paman jackson dengan raut wajah yang terlihat sangat gembira. “paman! Apa yang membuat paman datang kemari?” tanya Robbert, dengan mata yang masih berbinar-binar. Kelihatannya ia sangat senang atas kunjungan paman Jackson . Raut wajah paman Jackson yang awalnya terlihat sedih, tiba-tiba tersenyum, sambil menjawab pertanyaan Robbert “saya hanya hendak berkunjung. Apakah kamu menghendaki pamanmu ini untuk menginap semalam saja di kediamanmu ini? Paman sangat merindukanmu.”. “tentu saja paman, bahkan saya merasa sangat senang bila paman ingin menginap di rumah saya yang sederhana ini. Sampai kapanpun, pintu rumahku akan selalu terbuka untuk paman.” Balas Robbert, dengan tawa kecil di setiap kalimatnya. Marry hanya terlihat tersenyum-senyum mendengar pembicaraan kedua pria itu. “mana anak-anak kalian?” tanya paman Jackson sambil melihat-lihat kearah belakang Robbert dan Maria. “oh.. mereka ada di dalam rumah. Mari, paman masuklah! Rumah Robbert, rumah paman juga!” ajak Robbert diikuti dengan anggukan pelan Marry.

    Mereka bertigapun masuk ke dalam rumah, disambut oleh kedua anak Robbert yang langsung keluar dari dalam kamarnya menyalimi kakeknya itu. “wah kalian sudah besar, yah!” kata paman Jackson sambil mengelus-elus kepala kedua anak Robbert itu. “masuklah paman! Biar saya antar paman ke kamar paman dulu. Siapa tahu paman mau beristerahat dulu sebelum makan malam.” Tawar Marry, dengan sangat sopan. “oh iya, Marry! Terima kasih! Wah paman jadi merepotkan kalian nih!” canda paman Jackson. ” wah .. paman ini kayak orang lain saja! Paman beristerahatlah dulu, saya juga mau mandi dulu!”. Balas Robbert.

    Waktu makan malampun tiba. Di meja makan duduklah paman Jackson, Robbert, Marry, dan kedua anak Robbert dan Marry. Dengan nyalanya perapian di samping meja makan itu, mereka duduk dengan tenang bersiap-siap menikmati hidangan yang sederhana itu. “paman, bersediakah paman untuk jadi pemimpin doa sebelum makan malam ini?” pintah Robbert diiringi dengan anggukan kedua anak Robbert dengan kompak. “tentu saja, kenapa tidak.. Justru paman merasa sangat senang dapat diberikan kehormatan untuk memimpin doa sebelum makan, untuk keluarga baikmu ini.” Merekapun tersenyum tipis, kemudian memejamkan mata dan mulai berdoa.

    Waktu makan malampun selesai. Kedua anak Robbert segera menuju ke kamarnya masng-masing. Sementara Paman Jackson, Marry , dan Robbert duduk-duduk di ruang keluarga dekat perapian, berbincang-bincang. “paman! Dari tadi sore, saya lihat paman seperti menyembunyikan sesuatu dari kami berdua. Apakah ada yang paman sembuyikan dari kami?” tanya Robbert mulai serius. Paman Jackson terdiam. Tiba-tiba air menetes dari kelopak mata paman Jackson. Paman jackson menutup matanya menggunakan telapak tangan kanannya. “paman ada apa, paman? Mengapa paman tiba-tiba menangis?” tanya Robbert mulai resah. Tetapi paman Jackson tetap terdiam dan menambah isakan tangisnya. Tiba-tiba Robbert teringat dengan kondisi ibunya yang sedang tidak sehat terakhir kali ia melihatnya dua bulan yang lalu. “apakah ini ada kaitannya dengan ibu, paman?” tanya Robbert mulai ikut menangis dengan istrinya, melihat pamannya yang belum juga mau bicara. Suasana penuh dengan isakan tangis dari ketiga orang dewasa ini. ” saya mohon paman! Ceritalah, jangan membuat saya dan Marry jadi kebingungan seperti ini, paman!” desak Robbert. Paman Jackson mulai menenangkan dirinya dan menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya. “sebenarnya memang ada yang paman ingin sampaikan kepadamu dan Marry.” Paman Jackson terdiam lagi menatap mata Robbert dan Marry bergantian. “kamu masih ingat paman Solehmu? Pamanmu yang menghilang 30 tahun yang lalu ketika sedang berlayar. Yang kita fikir sudah meninggal itu?” pancing paman jackson berharap robbert masih mengingatnya. “oh paman Soleh? Kenapa dengan almarhum paman Soleh?” tanya Robbert. ” paman Solehmu ternyata belum meninggal. Ternyata ia terdampar di suatu pulau yang sangat terpencil. Dan selama bertahun-tahun paman Solehmu itu berusaha untuk tetap hidup di pulau yang sangat terpencil itu. Dan akhirnya paman Solehmu berhasil kembali ke rumah keluarga besar kita…” paman Jackson terlihat tidak sanggup melanjutkan ceritanya. “lalu apa masalahnya? loh, bukankah bagus kalau paman Soleh selamat? Bukankah seharusnya kita senang dan menyambut kedatangan paman Soleh kembali di keluarga besar kita? Lalu bagaimana keadaan paman Soleh, apakah dia baik-baik saja?” tanya Robbert dengan penuh rasa penasaran. Robert merasa tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari cerita pamannya tadi. “syukur paman Solehmu itu berhasil kembali ke rumah keluarga besar kita dengan keadaan yang baik saja. Dan tentu saja, kami sangat senang melihat paman Solehmu itu kembali. Nah, kamipun merayakan kedatangan paman Solehmu itu dengan pesta yang sanngat meriah. Sampai akhirnya pamanmu menanyakan keadaanmu. Kemudian saya menjawab kalau sekarang kamu sudah punya kehidupan sendiri, kamu telah mempunyai seorang istri dan dua orang anak. Betapa senangnya paman Solehmu mendengar informasi itu. Kemudian, ia menanyakan kembali tentang asal usul istrimu itu. Pamanpun menceritakan semuaya, mulai dari dimana Marry tinggal sebelumnya, sampai siapa nama ibu Marry. Tapi… setelah paman menceritakan semuanya, tiba-tiba senyum di wajah paman Soleh menghilang. Bahkan wajah paman Soleh berubah menjadi pucat, dan akhirnya paman Soleh jatuh pingsan. Kami semuapun panik, takut apa bila mungkin ada yang bermasalah dengan keadaan kesehetan paman Soleh. Kamipun langsung membawa paman Soleh ke dalam kamar dan memanggil seorang dokter untuk memeriksa paman Soleh. Ternyata paman Soleh hanya Shock saja, entah apa yang membuatnya seperti itu. Setelah sadarkan diri, paman Soleh menangis lepas seperti halnya apa yang saya lakukan tadi. Tangisan paman Solehmu itu membuat kami ikut menangis dengan sejuta pertanyaan yang tidak bisa kami ungkapkan. Setelah tenang, paman Solehmupun menceritakan semuanya. Ia mengatakan bahwa. Apa bila Marry adalah anak dari bibi hans, maka itu artinya, Marry adalah sepupumu Robbert. Marry adalah anak paman Solehmu, Robbert!.. ” jelas paman memecahkan suasana di rumah itu. Robbert dan Marry menangis terisak-isak mendengar penjelasan dari paman Jackson. Mereka menangis dan terus menangis, tidak peuli dengan siapa yangmelihatnya. Bagi Robbert dan Marry, itu adalah hal yang sangat membuatnya rapuh, mereka bingun harus bagaimana lagi. Isakan tangis mereka menyelimuti malam sampai malam berganti menjadi pagi.

    Suasana pagi hari ini, tidak seperti pagi sebelumnya. Suasana rumah Robbert di kelilingi dengan keheningan . “ayah apa yang terjadi? Mengapa ayah dan ibu terlihat murung?” tanya putra Robbert dengan penuh kepolosan. “sudahlah Justin, sebaiknya kamu pergi sarapan dengan kakakmu, Maria di meja makan! Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.” Jawab Robert berusaha menjawab pertanyaan putra bungsunya itu. Justin menurut saja dengan ayahnya, dan menuju meja makan untuk menyelesaikan sarapannya.

    Justin dan Maria berangkat ke sekolah bersama. Sementara itu, paman Jackson, Marry, dan Robbert kembali duduk di ruang keluarga hendak melanjutkan pembicaraan kemarin untuk segera menyelasaikan permasalahan ini. “paman! Apakah tidak ada solusi yang baik untuk masalah ini, paman? Saya sudah terlanjur sangat mencintai istri saya, Marry. Dan saya juga tidak sanggup mengatakan semuanya kepada putra dan putriku tercinta.” Ungkap Robbert memulai pembicaraan. “paman mengerti, Robbert! Paman sangat mengerti apa yang kamu dan Marry rasakan sekarang. Tapi, paman juga bingung, harus memberikan solusi apa untukmu, Marry dan juga anak-anakmu. Sementara, kita semua tahu kalau pernikahan sedarah itu sangat dilarang. Maka, hanya perceraianlah jalan keluar yang ada di otak paman saat ini, Robbert!” tutur paman Jackson. Marry terlihat tidak sanggup menahan isakan tangisnya, iapun langsung memasuki kamarnya. Melihat itu, Robbert hanya terdiam, melanjutkan pembicaraannya dengan paman Jackson. “saya tidak bisa paman! Saya tidak bisa menceraikan Marry. Saya tidak akan pernah sanggup melakukan hal itu. Saya lebih memilih meninggalkan dunia ini, dari pada saya harus hidup tanpa mereka!” “paman mengerti Robbert! Sudahlah ! sebaiknya kamu ikut bersama paman untuk bertemu secara langsung dengan paman Soleh!” tawar paman Jackson. ” KEMUDIAN.. MEMPERJELAS SEMUANYA, BAHWA MARRY ADALAH BENAR ANAK PAMAN SOLEH DAN MEMISAHKANKU DENGAN MARRY? BEGITU? Saya tidak mau, paman!” bantah Robbert. “tenanglah dulu, Robbert! Paman hanya ingin kamu dan Marry yang langsung mengungkapkan ketidak inginanmu bercerai dengan Marry! Paman juga tidak ingin merusak keluargamu Robbert! Paman hanya ingin yang terbaik untukmu.” Jelas paman Jackson. Robbert bangkit dari tempat duduknya dan berkata “mengapa dunia begitu tidak adil? Mengapa harus Marry, istriku, yang adalah anak paman Soleh? Apakah hubunganku dan Marry yang telah kami lalui dan jaga bersama selama ini harus berhenti sia-sia?” ratap Robbert. Paman Jackson hanya terdiam mendengar pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Robbert, karena paman Jackson tahu kalau pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban dari bibir pamannya. “baiklah paman, setelah Maria dan Justin pulang dari sekolahnya, kita langsung ke rumah keluarga besar kita!” kata Robbert menutup pembicaraan.

    Sore harinya, merekapun berangkat ke rumah keluarga besarnya. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh kerabat-kerabat lain dan langsung di ajak untuk beristerahat dulu. Setelah makan malam merekapun berkumpul di ruang keluarga untuk membahas tentang perkawinan sedarah antara Robbert dan Marry. “sebelumnya saya minta maaf. Apakah paman Soleh yakin kalau Marry adalah anak paman?” tanya Robbert mewakili pertanyaan istrinya, Marry. “kamu tahu kan kalau paman dulu pergi ketika kamu masih berumur sekitar dua tahun, sedangkan paman meninggalkan istri paman, Hans dengan keadaan hamil tua. Jadi, paman fikir kalau Marry itu kemungkinan besar adalah anak paman.” Jelas paman Soleh. “lalu kemana bibi Hans? Mengapa saya tidak pernah melihat bibi Hans sebelumnya?” tanya Robbert lagi. “sebenarnya, pamanmu dan bibi hansmu bercerai, sebelum paman Soleh pergi berlayar. Hal itu dikarenakan bibi Hansmu tidak bisa di tinggal berlayar sendiri tanpa pamanmu. Jadi, mereka bercerai dan bibi Hans menikah dengan pria yang bernama Rico. Dan bibimupun pergi meninggalkan keluarga besar kami dan ikut bersama Rico.” Jelas nenek. “lalu, mengapa tidak ada satupun diantara kalian yang mengenali bibi Hans, dan mencegah pernikahan sedarah ini?” tanya paman Soleh, membuat semuanya terlihat bingung. “sebenarnya ibuku memang pernah mengalami kecelakaan yang parah sebelum saya menikah dengan Robbert. Sehingga ibuku harus menjalani operasi plastik. Mungkin itulah mengapa kalian tidak mengenali wajah ibuku.” ungkap Marry. “hu.. saya masih tidak bisa menerima kenyataan ini saya..” belum sampai kalimat Robbert, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya memasuki ruang keluarga itu. “ibu?” ucap Marry heran melihat ibunya tiba-tiba ada di tempat itu. “ya.. saya datang ke sini untuk memperjelas semuanya.” Kata bibi Hans dan melanjutkan penjelasannya. “awalnya saya minta maaf, karena saya tdak pernah menceritakannya kepada kalian, saya takut kalian yidak bisa menerimanya. Sebenarnya, saya pernah mengalami kecelaan mobil ketika saya masih mengandung anak dari Soleh. Sehingga bayi dalam kandunganku meninggal. Dan, Rico adalah seorang duda beranak satu ketika ia menikahiku. Marrylah anak Rico itu. Putri tiri kesayanganku. Dan karena kecelakaan itu pula saya tidak dapat mengandung lagi.” Jelas bibi Hans, sambil berusaha menahan air matanya, mengungkap semua permasalahan. Keheningan memenuhi ruang keluarga yang megah itu. Lalu, Suasana kembali aman. “jadi, pernikahan antara saya dan Robbert, bukanlah pernikahan sedarah? Jadi, kami tidak perlu bercerai, kan?” kata Marry riang. “iya.. semoga hubungan kalian semakin baik. Dan semoga kalian bahagia selalu” doa nenek. {Happy Ending}..

 

 

THE END

    

 

Created By : NUR KHALISA SYAFAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s